17 January 2018

Menjadi Single Mom Bagi Kids Jaman Now

Seorang teman saya bertengkar dengan anaknya yang masih duduk di kelas 3 SD. Dudu yang kebetulan ada di lokasi diminta tolong untuk menasihati si anak agar mau mendengarkan perkataan orang tuanya. Tapi, Dudu malah menjawab, “Om, aku tidak tahu permasalahannya jadi aku tidak bisa mengatakan siapa yang benar. Bisa saja Om yang salah. Aku harus tahu dulu bagaimana ceritanya.”


Let me introduce you to “Kids Jaman Now” yang kerap jadi bahan pembicaraan dengan sikap mereka yang cuek terhadap lingkungan tapi peduli teknologi. Kurang paham etika tapi hafal lokasi cafĂ© dengan wi-fi. Anak-anak yang hidup serba instant, kalau buat PR tinggal Googling dan baca Wikipedia.


Memang benar begitu? Well, biar adil, saya tanya si Dudu (11 tahun). Menurut dia, seperti apa sih Kids Jaman Now? Ini ciri-cirinya:
  1. “Anak-anak ABG main gadget, yang kalau jalan bisa tabrakan kalau mereka terlalu fokus. Tapi aku rasa mereka belum segila itu.”
  2. “Susah dikontrol karena mereka akan selalu meminta sesuatu yang baru. Jika Handphonenya rusak mereka akan complain dan minta handphone yang baru.”
  3. “Pakai kacamata karena terlalu sering main gadget.”
  4. “Susah keluar rumah karena hanya mau main di rumah yang ada wifi.”
  5. “Bertarung sama ibunya dan ayahnya juga. Ya karena hal-hal yang berbeda.”
Yang jadi pertanyaan tentu saja bagaimana kita sebagai orang tua menyikapi perkembangan Kids Jaman Now ini?

30 December 2017

Bicara Nutrisi, Gizi dan Susu Kental Manis

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh perkumpulan dokter gigi Indonesia, penggunaan susu kental manis yang salah kaprah itu malah lebih banyak terjadi di kota besar.

Kok bisa?


Well, kalau melihat iklannya, susu kental manis (yang seharusnya disebut krimer kental manis itu) memang terlihat menyasar keluarga menengah di kota besar. Padahal harganya relatif murah. Inilah yang kemudian menjadi concern dalam Fun Discussion yang diadakan oleh Kelompok Kerja Jurnalis Penulis Kesehatan (K2JPK) bersama Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI pada 14 Desember yang lalu. Dengan tema “Cukupi Kebutuhan Gizi Keluarga, Jangan Salah Pilih Susu. Bunda Indonesia Bisa!” diskusi yang melibatkan berbagai kalangan ini bicara masalah nutrisi dan tumbuh kembang anak.


Lenny N. Rosalin, Deputi Menteri PPPA Bidang Tumbuh Kembang Anak

21 December 2017

Menjadikan Gadget Sebagai Teman Belajar Lewat Quipper Video

Akhir pekan kemarin, saya dan Dudu mencoba Quipper Video. Penasaran soalnya.

“Keponakan gue pakai Quipper tuh,” begitu komentar seorang teman waktu saya cerita. “Sekarang ada yang buat anak SD juga?”


Awalnya saya juga bingung, bagaimana menggunakan Quipper Video ini untuk Dudu. Selain karena dia masih SD, kurikulumnya yang internasional juga sedikit berbeda. Lalu saya ingat kata kunci dari Dra. Itje Chodijah, M.A., Education Expert yang hadir di acara TUM Luncheon Bersama Quipper hari itu: “Quipper bukan pengganti sekolah tapi pasangan sekolah. Teknologi ini adalah pelengkap pendidikan.” Jadi, untuk kita berdua, Quipper Video jadi sarana belajar sejarah dan budaya Indonesia yang otherwise bakalan terlewat dari kehidupan Dudu seperti kemerdekaan Indonesia dan zaman kerajaan-kerajaan itu. 



"Pelajarannya yang di Quipper, aku belum sampai sih, belum diajarkan di sekolah. Tapi aku bisa belajar yang lain-lain, yang tidak diajarkan di sekolah aku," begitu komentar si Dudu waktu saya tanya gimana rasanya belajar pakai Quipper Video. "Kurasa bagus untuk belajar dari video, karena kalau kamu tidak mengerti kamu bisa ulang lagi terus dan gurunya tidak akan marah karena disuruh ulang-ulang."

14 December 2017

Melihat Peluang Lewat Content Writing dan Optimisasi SEO

Menjadi seorang content writer bukanlah tujuan akhir, tapi awal perjalanan menulis kita.

Kira-kira begitulah kesimpulan yang saya dapat dari workshop bersama CNI dan Komunitas Indonesia Social Blogger (ISB) kemarin di Burger King Pasar Festival. Workshop ini merupakan seri ke-2 dan sayangnya saya tidak ikut sesi pertamanya. Untungnya ada beberapa juga yang baru hadir di sesi ini dan Teh Ani Berta selaku pembicara bersedia mengulang sedikit presentasi awalnya. Beginilah kisah content writer wannabe di satu Minggu sore yang mendadak jadi jauh lebih berfaedah.


“Content writer ini bukan untuk blogging,” begitu penekanan Teh Ani di awal presentasinya. Soalnya, meskipun sama-sama menulis, content writer dan blogger itu berbeda. Sebagai blogger, kita punya blog, nulis buat diri sendiri dan senang-senang sendiri. Sementara content writer mengisi website orang, perusahaan atau institusi lain seperti misalnya Brilio, Citizen6, Vivalog dan Kompasiana. Kalau kita suka baca website dan ada tulisan mengajak kita untuk sumbang artikel dan mengisi di web mereka, itu adalah ajakan jadi content writer. Dibayar? Tidak selalu sih. Tapi sebagai content writer yang kita cari kan sebenarnya portfolio.

21 November 2017

The Bad Guy Wins Because He Gets The Girl

“Thor-nya kuat dan tampan. Thor juga pahlawannya. Tapi Mama sukanya Loki. I guess in the end, bad guy wins because he gets the girl,” komentar Dudu sepulang kita nonton Thor Ragnarok.

Lha, kok gitu, Du?

“Yah, habis Mama selalu ribut suka sama Loki.”



Gara-gara itu saya jadi berpikir kenapa Thor bisa kalah charming dari Loki. Well, di dunia drama Korea ada yang namanya second-lead syndrome. Mungkin di perfilman barat juga ada. Hahaha. Anyway, back to Thor. Secara keseluruhan film ini lucu banget. Lebih komedi daripada action, dan sebenarnya terasa kalau Marvel memaksakan beberapa adegan yang meskipun berhasil membuat satu bioskop tertawa ngakak, tapi sebenarnya tidak perlu-perlu amat ada di Thor Ragnarok. Jalan ceritanya sendiri ya, well, unfortunately buyar.

29 October 2017

Kolaborasi Philips dan KAMI di Jakarta Fashion Week

“Nyetrika baju suami? Nggak, di rumah gue, kita semua menyetrika baju sendiri-sendiri. Termasuk anak gue,” begitu kata teman saya.

Ketika saya tanya kenapa, jawabannya klasik: mereka semua tidak suka menyetrika. Tapi ketika ada yang berbaik hati menyetrikakan bajunya, pasti kena complain. Yang ini kerahnya tidak boleh disetrika, yang itu suhu setrikaannya kepanasan dan membuat bahan bajunya rusak, yang satu lagi salah setrika lipatan celananya. Menyetrikanya saja sudah was-was, bagaimana mau dengan senang hati?




Di Jakarta Fashion Week 2018 minggu kemarin, Philips menghadirkan setrika uap Perfect Care Optimal TEMP GC3920 dan Garment Steamer Easy Touch Plus GC524. Dua benda ini bikin saya jadi pengen ngomongin setrika lagi nih. Soalnya kata Yongky Sentosa, Head of Personal Health Philips Indonesia, “produk ini memberikan garansi kalau pakaian (yang disetrika) tidak akan terbakar.” Meskipun yang namanya baju gosong untuk saya hanya ada sebagai lelucon klasik di TV, tapi adegan salah suhu dan bahan yang rusak sudah jadi pengalaman sehari-hari. Tidak heran, soalnya, beda bahan memang beda kebutuhan.

21 September 2017

Belajar Menghargai Perbedaan dengan Wisata Rumah Ibadah

Dudu tidak dapat pelajaran PPKN dan Agama di sekolahnya. Tidak ada buku cetak yang mengajarkan umat Hindu sembahyang di Pura, umat Islam di Masjid dan lain sebagainya. Maklum, sekolah internasional, jadi berbeda kurikulumnya dengan saya dulu yang bertahun-tahun dijejali teori perbedaan suku dan agama. Ketika kegiatan Wisata Rumah Ibadah Komunitas Bhinekka (akhirnya) dibuka untuk anak kelas 4-6 SD di Jakarta, saya langsung daftar. 




Kenapa memahami perbedaan itu penting? Karena anak harus belajar toleransi dan menerima bahwa ada banyak orang yang berbeda dengan mereka. Menurut Vera, psikolog yang membawakan sesi "pembekalan untuk orang tua" di awal acara, tidak memahami perbedaan bisa mengakibatkan anak jadi stress dan kemudian tidak siap menghadapi perbedaan di lingkungan yang lebih luas lagi seperti ketika kuliah atau bekerja. Lalu, kenapa harus jalan-jalan? Ketika saya kecil dulu, menghafalkan bahwa orang Buddha pergi ke Wihara untuk sembahyang bisa menempel di kepala. Tapi untuk Dudu yang lebih visual, jalan-jalan tentunya lebih menarik dan diingat ketimbang mendengarkan "ceramah" guru di kelas. 

Saya drop di Sekolah Gemala Ananda, Lebak Bulus di pagi hari, lalu saya pergi "me time" setelah menyaksikan anak-anak ice breaking dan selesai pembagian kelompok. Orang tua tidak boleh ikutan padahal saya ingin banget mencoba masuk wihara dan lithang di Indonesia. Ada baiknya juga karena saya jadi punya waktu untuk menyelesaikan PR tulisan. Sorenya, saya jemput di Pura Amrta Jati, Cinere. Sambil berjalan kaki pulang dari Pura, Amrta Jati, saya dan Dudu berdiskusi tentang pengalamannya hari itu. Ini cerita Dudu:

18 September 2017

Gadget untuk Anak vs Me Time Mama

Selembar survey mendarat di pangkuan saya dengan pertanyaan bertuliskan “apa yang paling Anda khawatirkan dari pemberian gadget kepada anak Anda?” Masalah apa yang akan timbul kalau anak punya gadget sendiri? Kira-kira begitu maksud pertanyaannya. Hm… apa ya?

Miss Stella dari RISE yang menjadi moderator acara diskusi kita. (Photo by Single Moms Indonesia)
Ketika itu saya sedang menghadiri acara diskusi yang diadakan oleh Komunitas Single Moms Indonesia dan RISE, yang dikenal sebagai kursus bahasa Inggris untuk anak 2-12 tahun yang kini memiliki beberapa cabang. Acara tanggal 26 Agustus tersebut diadakan di RISE Central Park, tepat ketika Dudu baru sebulan punya HP. Beli pakai uang sendiri, patungan sama teman saya untuk hadiah ulang tahunnya. Selain HP, gadget si Dudu adalah tablet yang dibelinya juga dengan uang sendiri, dan Playstation 4 yang dibeli dengan uang hasil saya menang kuis 10 juta itu. Pas dengan tema “Gadget and Children: How to Use Them Wisely,” yang jadi tema siang hari itu.

Gadget, alias gawai dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, sering jadi masalah untuk orang tua. Apalagi, sebagai Single Mom yang tidak punya banyak waktu “me time”, dan tidak punya pasangan untuk gantian pegang anak, saya sering juga menjadikan gadget sebagai babysitter. Dudu sampai pernah bilang, “Mama pasti senang sekarang karena aku asyik main PS dan tidak mengganggu waktu istirahat Mama lagi.” Itu saja sebenarnya sudah merupakan kekhawatiran sendiri.

Lalu akhirnya saya menuliskan kekhawatiran saya dan mengumpulkan kertas surveynya.