31 January 2016

Anak Saya Bilingual

Saya sering dapat pertanyaan ini: “Anaknya bisa bahasa Indonesia?” Mungkin karena wajah Andrew yang bule atau ketahuan sekolahnya internasional. Dan biasanya orang terkejut ketika tahu bahwa bahasa ibu Andrew ya Bahasa Indonesia dan sampai lulus TK dia belum bisa bicara Bahasa Inggris. Lalu bagaimana bisa tumbuh dengan 2 bahasa?

Udah ketemu Superman
tapi tidak bisa ngobrol karena kendala bahasa
Ketika melahirkan Dudu di Di Amerika, saya pernah bertanya-tanya bagaimana mempertahankan bahasa Indonesia pada anak saya, sementara semua lingkungannya berbahasa Inggris? Saya mendapatkan jawaban yang saya pegang teguh sampai sekarang. Jadi seorang anak kecil tidak kenal istilah “bahasa”. Yang dia tahu adalah kalau sama Mama bicaranya begini. Kalau sama Miss begini, kalau sama Mbak begini. Dan ajaibnya, cara berbicara itu tidak bercampur. Saya bisa tenang meneruskan berbicara Bahasa Indonesia pada Andrew, jadi Andrew akan bicara Bahasa Indonesia sama saya. Oh, lega.

Bingung bahasa?
Eh, lalu saya pulang ke Indonesia for good. Mendadak, ketika Andrew baru mulai berkata-kata. Lah, jadi terbalik dong. Semuanya berbahasa Indonesia, saya juga berbahasa Indonesia. Terus, Bahasa Inggrisnya bagaimana? Inilah yang memutuskan bahwa Andrew harus masuk sekolah internasional supaya bisa berbahasa Inggris. Sekarang malah ditambah Mandarin.

Waktu TK belajarnya bahasa Indonesia
Seperti nasihat tadi, anak-anak memiliki pemahaman yang aneh tentang bahasa. Kalau Mama pakai Bahasa Indonesia, Miss pakai Bahasa Inggris atau Mbak pakai Bahasa Jawa, ya anak akan menyesuaikan bahasanya dengan orangnya. Jadi tidak perlu khawatir anak bingung bahasa. Barbara Zurer Pearson, pengarang buku Raising a Bilingual Child, menyebutkan hal yang sama, “Bayi dapat secara ajaib membedakan bahasa, terutama bahasa yang terdengar sangat berbeda.” Jadi Inggris, Indonesia dan Mandarin pada saat yang bersamaan bisa dibilang aman.

Apakah kemudian anak jadi terlambat bicara? Well, tidak juga sih. Meskipun ketika semua berubah jadi Bahasa Indonesia, Andrew mendadak cerewet. Haha. Bahasa Inggrisnya yang ketika masuk SD masih terbata-bata juga mendadak lancar dalam hitungan bulan. Sekarang anaknya sudah bisa nonton film tanpa teks, baca subtitle anime Jepang dan selalu pakai Bahasa Inggris kalau sedang main action figure.

Dulu keluarga Papa saya kalau kumpul selalu menggunakan Bahasa Jawa. Sampai sekarang, saya selalu menggunakan Bahasa Jawa jika berbicara dengan mereka. Termasuk waktu liburan ke Singapura sama sepupu saya kemarin itu. Padahal saya tidak pernah belajar, hanya mendengarkan mereka ngobrol saja. Andrew juga akhirnya begitu. Bahasa Inggris dari Miss, Bahasa Indonesia dari... Spongebob Squarepants dan Doraemon yang dia tonton setiap pagi sebelum sekolah. Bahasa Indonesia Andew jadi baku.

Dudu: Ma, temanku bertanya di sekolah, kenapa Bahasa Indonesiaku lancar sekali?
Mama: Loh, memangnya teman-teman kamu tidak bisa Bahasa Indonesia?
Dudu: Tidak bisa.
Mama: Orang tuanya?
Dudu: Aku tidak tahu. Mungkin mereka berbicara bahasa Inggris. Atau Mandarin.



Kalau jalan sama sepupu-sepupu saya ini,
Andrew jadi ikut berbahasa Jawa
Kuncinya konsistensi.
Ketika saya pulang ke Indonesia saya memutuskan tetap berbahasa Indonesia. Jadi Andrew tidak bingung. Marsha Rosenberg menulis dalam majalah alumni The American School in Japan bahwa konsistensi orang tua menggunakan bahasa menjadi kunci penting bagi anak untuk fasih berbahasa asing. Marsha melarang orang tua (dan pengasuh serta guru di sekolah) untuk mencampur bahasa dalam percakapan sehari-hari karena akan membuat anak bingung dan akhirnya berpikir bahwa bahasa yang tercampur baur itu adalah satu bahasa. Hmm... Mungkin seperti Cinta Laura ya? Jika orang tua tidak bilingual, anak dapat mempelajari bahasa kedua di sekolah ataupun di lingkungan tempat dia biasa main.

Satu hal yang perlu dicatat adalah mengajarkan bahasa sedini mungkin karena menurut Marsha kesempatan menjadi fasih dalam dua bahasa atau lebih lebih besar jika anak mengenal bahasa tersebut sebelum menginjak usia remaja. Tapi, buat yang anak-anaknya masih TK dan bahasa Inggris/Indonesianya masih terbata-bata, belum terlambat kok untuk memperlancar bahasa kedua. Coba berikan waktu yang lebih banyak (misalnya di sekolah) untuk menggunakan bahasa kedua itu. Kalau anaknya sudah lewat balita, boleh juga di rumah berubah-ubah bahasa. Saya selalu memarahi Dudu pakai bahasa Inggris. Jadi dia tahu, kalau saya mendadak berbahasa asing, tandanya saya sedang kesal. Haha. Tapi tetap tidak mencampur beberapa bahasa dalam satu kalimat ya.



Acara ini adanya di TV Cable, Du
Dudu: Mama, teman-temanku menonton TV Cable. Apa itu TV Cable?
Mama: Itu lho yang berlangganan tiap bulan... Yang kita selalu menumpang nonton di rumah Tante Diah kalau weekend.
Dudu: Ooh, yang acaranya banyak dan bagus-bagus itu ya? Teman-temanku belajar bahasa Inggris dari menonton TV. Mungkin mereka mengikuti teksnya dan mendengarkan bahasanya?
Mama: Kamu?
Dudu: Aku belajar Bahasa Inggris dari film Zombie.

Yah, salah satu kalimat bahasa Inggris pertama si Dudu sih begini: “My name is Alice and I work for the Umbrella Corporation.” dan “You all going to die down here.” Hayo, ada yang tahu itu dari film apa?

Sekarang ini saya dan Andrew hanya tersenyum kalau ada yang memuji “bahasa Indonesianya pintar ya, dik.” Atau ada yang tertawa ngakak mendengar Andrew berbicara ala dubbing kartun atau film laga lokal. Yang penting Bule Depok ini bilingual.

10 comments:

  1. Wah, itu kan berkat mama Dudu yang Nasionalis sejati tuh, gak mau sok-sok-an berbahasa Inggris saenak-e wae walau pun tinggal di Amrik, hehe... Salut sama Nina mengajarkan Dudu, sehingga Dudu pintar dalam kedua bahasa itu. Sekali lagi salut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir Bunda. Hehe. Ya soalnya kan Mamanya orang Indonesia, jadi paling ngga harus adil hihihi

      Delete
  2. Hai Mbak, salam kenal.Salam buat Andrew ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai :) Salam kenal juga Tante (kata Andrew)

      Delete
  3. saluuut deh sama Mama Dudu...tetap berbahasa Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes. Bahasa Indonesia duluan dong hehe. Yang penting kan inggrisnya lancar juga.

      Delete
  4. Itu percakapan dari film resident evil kayaknya mbak hehe...mumpung masih kecil gampang banget buat si Dudu buat belajar bahasa, karena biasanya otak juga masih berkembang...saya jadi ingat satu iklan...otak balita itu seperti otak ilmuwan...gampang sekali belajarnya....salam kenal mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yak tepat sekali haha. Btw, bener loh anak-anak gampang belajar, aku suka iri sama anak-anak, kok apa aja masuk.

      Delete
  5. Teman-teman Andrew gak selancar Andrew berbahasa Indonesia, ya krn lingkungannya hy aktif berbahasa Inggris ya. Jempol untuk mama Rurh yang setia berbahasa ibu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba, saya juga sempat kaget. Soalnya pas ketemu para orang tua, rata-rata orang indonesia dan berbahasa indonesia satu sama lain. Bahasa Inggris bisa dipelajari (karena di luar negeri kepake), tapi bahasa Indo kesempatannya hanya sekarang, makanya harus bisa. hehe

      Delete

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komen. Mohon maaf untuk yang meninggalkan link hidup dan komen bersifat spam atau iklan akan dihapus.