20 July 2017

3 Manfaat Menulis Reportase

Menulis karena ada imbalan. Saya sedikit banyak sudah pensiun dari konsep itu.

Seringkali ketika saya duduk di depan laptop dengan secangkir kopi, Dudu akan menghampiri dan bertanya, “Mama sedang cari uang ya?” Yes. Pekerjaan saya selama ini berkaitan dengan tulis menulis, seperti sudah ditakdirkan sejak SD ketika saya hobi menulis untuk majalah sekolah dan reportase tabloid. Bayarannya saat itu datang lewat wesel. Lalu saya lelah. Menulis yang seharusnya jadi hobi kok malah menjadi beban karena “dibayar” alias berubah jadi pekerjaan. Jadi saya mulai ngeblog agar bisa menulis sesuka hati tanpa bayaran.

Hadir di acara Indonesia Montessori. Harusnya cuma post IG malah jadi tulisan.
Siapa yang menyangka ternyata di tahun 2017 ini semuanya terbalik. Ketika media (terutama cetak) sudah mulai menurun dan blogger naik daun, saya mendapatkan banyak undangan event dan menghadiri banyak workshop baik tentang menulis, blogging maupun digital marketing yang jadi pekerjaan saya sekarang. Ada yang saya dibayar, ada yang tidak dan ada yang saya membayar. Semuanya saya tulis? Iya, terutama kalau memang sempat dan informasinya berguna bagi banyak orang. Yang paling sering adalah ketika saya menang kuis nonton bareng dari XYKids, karena nonton film jadi kegiatan nge-date kita berdua yang paling sering. Tidak ada kewajiban menulis, karena kita menang kuis, tapi karena biasanya menang kuis membuat kita nonton film duluan, review kita bisa berguna bagi orang lain yang ingin nonton film tersebut bersama anaknya. 

18 July 2017

Seperti apa Museum Nasional Saat Ini?

“This museum is testing my patience,” ujar seorang anak bule yang diminta menitipkan backpacknya sebelum memasuki ruangan pameran. Itu terjadi setelah kita tidak bisa masuk lewat pintu parkiran, melainkan harus naik lewat jalan keluar mobil karena loket ada di atas dan pintu yang ke parkiran hanya digunakan untuk keluar. Museum yang aneh ini adalah museum tempat saya field trip waktu SMP. Namanya Museum Gajah. Familiar?



Dan sekali itu saya mengajak si anak bule, alias Dudu, ke Museum Nasional karena kita sudah mentok tidak tahu mau pergi ke mana lagi. Ah, kenapa harus dimulai dengan Dudu yang ngedumel? Untungnya seiring perjalanan dari satu lantai ke lantai berikutnya, Dudu sudah ceria lagi. Sudah lupa sama hal—hal yang merepotkan di depan tadi. Dari sini saya belajar satu hal: kalau masuk tempat wisata di Indonesia, jangan keburu jadi ilfil dengan apa yang ada di depan, tapi coba nekat masuk terus ke dalam karena bisa saja kita bertemu banyak benda dan pengalaman berharga.

Karena itu saya dan Dudu bertekad untuk lebih sering bermain ke museum yang ada di Indonesia.

17 July 2017

Cerita di Balik Kuis 10 Juta dan Playstation 4

Kalau kamu dapat 10 Juta, uangnya mau dipakai apa?

Akhir bulan kemarin saya menemukan pertanyaan itu di salah satu kuis radio. Saya isi jawaban iseng. Jujur. Tapi bukan jawaban yang menggerakan orang untuk kasihan. Saya tulis kalau saya mau belikan PS4 buat Dudu, yang sudah ingin punya console tersebut sejak lama.

Di akhir periode kuis, saya dapat telpon kalau saya masuk final. Satu dari lima yang harus berjuang untuk memenangkan uang tersebut.

HAH? YANG BENAR AJA?

Di tengah kebingungan kenapa saya yang mau membelikan PS4 ini bisa masuk final, saya mengiyakan semua persyaratan dan nekat menjalani babak final tersebut. Kegiatannya banyak, karena para finalis harus menginap 2 hari 1 malam di sebuah hotel. Saya baru memberitahu Dudu malam sebelum saya harus menginap, soalnya saya juga baru diberi tahu siangnya.

Mama: Coba didoakan itu, ditanyakan sama Tuhan, boleh ngga kita dapat 10 juta.
Dudu: (selesai berdoa) Kata Tuhan boleh, Ma.
Hahahaha, enak saja anak ini.

16 July 2017

Mengajak Anak Cowok Ikut Kelas Zumba

Kemarin Dudu berulang tahun yang ke-11. Ah, sudah bukan anak-anak lagi dong ya. Sebentar lagi jadi teenager lalu akan pergi jalan sendiri dengan teman-teman dan pacarnya. Aktivitas #DateWithDudu akan banyak berkurang. Tapi sebelum itu terjadi, saya mau membuat resolusi untuk mencoba banyak hal baru agar ngedate dengan anak pra-remaja ini bisa jadi lebih seru.

Date kita kemarin di National Gallery Singapore
Father and son? Mother and daughter? Forget that. Jadi seorang single mom dengan anak laki-laki kadang menjadi tantangan tersendiri karena katanya ada hal-hal yang menjadi "urusan bapaknya" atau kegiatan yang jadi kewajiban anak perempuan untuk menemani ibunya.

Seiring berjalannya waktu ternyata kompromi itu bisa diciptakan, meskipun separuhnya kadang saya memaksa Dudu buat mencoba ini itu seperti kemarin ketika saya secara sepihak mendaftarkan dia kelas Zumba di studio tempat saya olahraga. Sepulang Zumba, saya dan Dudu jadi ngobrol-ngobrol tentang kegiatan date kita, lalu menemukan beberapa hal yang ternyata bisa dilakukan oleh ibu dan anak laki-lakinya.

Zumba
"Kenapa Zumba isinya cewek-cewek semua, Ma?"

14 July 2017

THR itu Yang Penting Bahagia

Sebagai seorang single parent, yang namanya THR itu harus disayang-sayang. Tapi saya bukan orang yang bisa mengelola uang. Hidup saya simple: Pengeluaran, Tabungan dan Deposito.

Setiap gajian datang, langsung saya bagi untuk ketiga pos tersebut. Pengeluaran itu yang wajib ada seperti makan, transport dan biaya nge-#DateWithDudu setiap minggunya. Tabungan adalah untuk pengeluaran daurat misalnya ada yang ulang tahun harus urunan kado, mendadak harus bayar tiket atau hotel karena mau jalan-jalan. Sementara deposito adalah yang tidak bisa diutak-atik untuk keperluan yang lebih besar seperti biaya sekolah anak atau sebagai modal jika kelak ingin pindah ke luar negeri. Haha.

Kalau ada kebutuhan di luar itu seperti si Dudu yang minta PS4 sebagai hadiah atau saya ingin ganti HP, maka saya harus cari uang tambahan (atau yang jatuh dari langit). Dengan adanya THR berarti bisa bernafas sedikit lebih lega.

Lalu, tahun ini, THR saya digunakan untuk apa?





13 July 2017

Obrolan di Meja dan Opor Ayam

Lebaran selalu identik dengan opor ayam di rumah tante yang satu itu. Padahal kita tidak ada yang merayakan Lebaran. Cuma sekedar kumpul, makan dan ngobrol. Seru? Ya seru sih, habis kalau tidak begitu kan kita jarang ngobrol.

Obrolan kok tentang sekolah? Hehehe.
Obrolan yang wajib adalah tentang sekolah. Tahun ini satu keponakan saya naik ke TK B, sehingga percakapan memilih sekolah dasar menjadi topik hangat. Apalagi sepupu saya ini tinggalnya tidak jauh dari sekolah si Dudu. Memilih sekolah, apalagi sekolah dasar, menjadi hal yang sulit untuk beberapa orang tua muda. Soalnya banyak kriteria yang ingin dicapai. Anaknya sudah TK berbahasa Inggris, sayang kalau kemampuan bahasa Inggrisnya hilang. Kalau begitu sebaiknya masuk sekolah internasional. Tapi, sekolah internasional macam sekolah si Dudu bukannya perfect. Selain cenderung mahal, anaknya juga banyak yang datang dari keluarga kaya dengan attitude yang menurut saya kurang oke. Tapi entah kalau menurut orang tuanya. Hehe. Pernah nonton Meteor Garden? Ya seperti Taomingse kecil begitulah teman-teman si Dudu. Yang kalau tabletnya rusak, besoknya sudah dibelikan gantinya oleh orang tuanya. Sementara Dudu beli tablet susah payah dari mengumpulkan hasil kerja sendiri dan uang angpao Imlek.


17 June 2017

Kenapa Buka Puasa Bersama itu Spesial?

Selain ibu penjual kolak di pasar segar, salah satu hal yang saya tunggu bersama datangnya bulan puasa adalah kesempatan berkumpul dan update kabar dengan teman-teman, mulai dari teman sekolah hingga teman kantor. Kesempatan yang bernama buka puasa bersama.


Hari ketiga puasa, undangan buka puasa bersama sudah mulai berdatangan. Di setiap grup WA ada semangat untuk berkumpul dan buka puasa bersama. Terutama yang grupnya aktif tapi jarang berkumpul bersama di dunia nyata. Tapi pada setiap kesepakatan buka puasa selalu ada cerita begini:
Satu grup WA 30 orang.
Begitu diajak “bukber yuk!” yang semangat ada 25 orang.
Ketika tanggal ditentukan, ada 20 orang yang yakin ikut.
Ketika tempat dibooking tinggal 15 orang.
Hari H 12 orang yakin datang tapi yang beneran muncul hanya 8 orang.
Itu pun yang sedang puasa hanya 2 orang.
Sisanya antara memang tidak puasa atau sedang berhalangan.

Tapi tetap meriah, tetap seru dan tetap jadi momen yang ditunggu-tunggu. Kenapa?

11 June 2017

Pesan Budaya End of Black Era

End of Black Era adalah film bergenre fantasi yang hadir dengan sebuah misi untuk memperkenalkan budaya Indonesia, dalam hal ini kain lurik dan kerajinan tembaga dari Jogjakarta, kepada anak muda Indonesia. Minggu lalu, saya dan Dudu nge-date sambil memenuhi undangan menyaksikan screening film pendek dari seorang costume designer bernama Aryanna Yuris. Film pendek yang setelah selesai nonton jadi pengen ngomel-ngomel minta lanjutannya dibuat segera hahaha. 


Cerita End of Black Era termasuk sederhana. Neewa melarikan diri dari sang Malapetaka dengan membawa Talisman yang diwariskan kepadanya. Ketika putus asa, Neewa memohon untuk diselamatkan. Namun bukanya selamat, Neewa malah terperosok ke dalam jurang. Kalau dilihat lagi, jurang itu justru menyelamatkan Neewa karena si Malapetaka jadi lewat begitu saja dan tidak melihatnya. Di jurang itu juga Neewa bertemu 4 orang dengan kostum aneh yang hubungannya bisa dilihat di episode berikutnya.

Pesan yang ingin disampaikan film pendek ini cukup jelas, terkadang apa yang kita lihat sebagai kemalangan adalah upaya yang maha kuasa untuk menolong kita. Ketika kita bertemu malapetaka, bukan berarti lantas kita dapat cobaan, karena kadang melalui malapetaka itulah kita mendapat jawaban, jelas Yongki.

Kalau mengikuti Oscar alias Academy Awards, yang saya tunggu-tunggu bukan pengumuman Best Picture, Best Actress atau Best Actor tapi Best Costume, Best Soundtrack dan Best Screenplay. Soalnya, meskipun aktornya penting, tapi saya lebih senang memperhatikan kostum dan properti pendukung lainnya karena mereka pasti punya cerita dan pesan sendiri yang ingin disampaikan.

Sama seperti End of Black Era, yang ketika kita bertemu Neewa dan penduduk desanya, kita paham makna dan cerita yang ingin disampaikan kain lurik dan hiasan telinga yang merupakan detail kostumnya. Soalnya sebelum kita dipertemukan dengan Neewa, sang tokoh utama, di screening ini kita bertemu dengan dua tokoh dibalik kostumnya.

07 June 2017

Movie Review: Wonder Woman

For me, Wonder Woman helped put things into perspective. Meskipun saya bosan di tengah-tengah dan ternyata Dudu juga, tapi film ini mengajarkan beberapa hal tentang cinta dan bagaimana menemukannya di tengah kebencian yang ada. Sounds familiar? Mungkin karena saya juga nontonnya pas Hari Kesaktian Pancasila, film ini jadi membuat saya memikirkan nasib bangsa.

Really?



A general doesn’t sit behind a table, he goes out and fights. Kalimat Diana yang satu itu, terhadap para jendral Inggris yang sibuk merencanakan gencatan senjata dari balik meja, memang mengena. Di Themyscira, yang kita lihat selama setengah jam pertama (atau lebih) film Wonder Woman kita melihat Antiope sang jendral Amazon maju ke medan perang. Demikian pula dengan Hippolytta, sang ratu sekaligus ibu kandung Diana. Dari sini kita sedikit banyak belajar tentang para Amazon, kenapa hanya ada perempuan dan bagaimana Diana bisa jadi satu-satunya anak kecil di sana. Diana kecil selalu kabur dari pelajaran istana dan memilih belajar bertarung bersama Antiope, tanpa persetujuan ibunya yang sudah lelah dengan peperangan. 

Kedamaian di Amazon terusik ketika Captain Steve Trevor dan pesawatnya jatuh ke perairan Themyscira, menembus ilusi pelindung yang dibuat Zeus. Capt. Trevor, sang mata-mata Inggris dikejar-kejar pasukan Jerman yang ingin mengambil kembali buku rumus gas beracun yang dicuri dari dr. Maru. Karena inilah, Diana mengenal perang dan bertekad pergi ke dunia luar untuk membunuh Ares, sang Dewa Perang yang menurut legenda adalah penyebab semua keburukan hati manusia. Ketika berjalan bersama Capt. Trevor, dan grup kecilnya yang unik, inilah, Diana banyak belajar tentang dunia manusia yang ternyata jauh lebih rumit daripada sekedar menghunus pedang dan membunuh musuhnya.

Wonder Woman (141 menit)
Director: Patty Jenkins
Actor: Gal Gadot, Chris Pine, Robin Wright, David Thewlis
MPAA Rating: PG-13 (di Indonesia jadi Remaja 13+)

29 May 2017

Ngemil Sehat Bersama Cerelac Nutripuffs

Mama ini apa? Adiknya Koko Krunch ya? Boleh disiram susu juga?

Dudu melihat camilan baru saya, yang ada di samping laptop di meja kerja di rumah. 10 menit kemudian, Cerelac Nutripuffs sudah ada di mangkok bersama segelas susu dan dalam sekejap sudah dihabiskan Dudu. Setelah itu barulah anak kelas 5 SD ini melihat bungkusnya.


Dudu: Untuk anak 10 bulan. Ma, tapi aku sudah 10 tahun. 10 dikali 12 bulan jadi 120 bulan. Lalu minus 10 bulan jadi 110 bulan. Aku sudah jauh terlewatkan umurnya.
Mama: Lalu kamu akan tetap makan Cerelac Nutripuffs itu?
Dudu: Ya bisa jadi. Soalnya enak.


26 May 2017

Pirates of The Caribbean: Salazar's Revenge

Saya ingat Jack Sparrow sejak kunjungan ke Disneyland sekitar 20 tahun lalu. Pirates of the Caribbean. Naik kapal dan bertemu bajak laut. Beberapa tahun belakangan ini, pertemuan saya dan Captain Jack Sparrow hanya terjadi di bioskop. Hari ini mungkin jadi yang terakhir karena kabarnya Pirates of the Caribbean: Salazar’s Revenge adalah sequel terakhir dari kapten kapal Black Pearl ini. 


Dudu langsung ngefans sama Salazar. “Penjahatnya keren. Ada action figurenya? Kalau ada action figurenya saya mau beli.” Salazar adalah tokoh utama cerita ini. Salazar membawa kita kembali ke masa lalu Jack ketika pertama kalinya menjadi kapten kapal. Bukan Black Pearl karena kita tahu dia mencuri Black Pearl itu dari Babarosa. Jack yang masih muda berhasil menjebak Salazar ke Devil’s Triangle dan mengancurkan kapalnya di sana. Sejak itu Salazar dan crewnya terperangkap di sana dan menghantui setiap kapal yang masuk ke sana. Tapi karena dia mencari Jack Sparrow, dia selalu meninggalkan satu orang untuk menceritakan kisahnya. Because dead men tell no tales. Kali ini yang dilepaskan untuk mencari Jack adalah Henry Turner, anak laki-laki Will Turner dan Elizabeth Swan.

Jalan ceritanya sendiri bisa ditebak dengan mudah. Henry Turner bertemu seorang astronomer perempuan bernama Carina Smyth dan mereka lalu menyadari bahwa mereka sedang mencari benda yang sama yaitu trisula Poseidon. Carina sedang memecahkan misteri tentang siapa ayahnya sementara Henry ingin menggunakan trisula itu untuk melepaskan kutukan yang menjebak Will Turner di Flying Dutchman. Jack Sparrow kebetulan muncul di tengah kebingungan dua orang itu dan kekacauan yang terjadi di kota. Jack Sparrow yang menggadaikan kompas legendarisnya tidak sengaja melepaskan Salazar sehingga kapal Silent Mary bisa berlayar dan menguasai lautan dan mengancam Babaroosa yang sudah hidup makmur dengan 8 kapal dan harta berlimpah sebagai bajak laut sukses. Lagi-lagi Jack Sparrow jadi ujung simpul perang kekuasaan, kali ini di laut.



 “Aku paling suka saat pertarungan Salazar dengan Jack Sparrow.” Kalau Mama sih suka bagian di mana ada Jack Sparrownya hahaha. Dan adegan hukuman mati di tengah kota yang kacau itu. Pirates of The Carribean edisi terakhir ini meningatkan saya dengan film pertamanya. Mulai dari setting hingga pemainnya. Kalau edisi pertama ada Will Turner dan Elizabeth Swan, di sini ada Henry Turner dan Carina Smyth. Lalu ada angkatan laut Inggris dengan ambisinya yang masih tidak kesampaian itu. Konsistensi Johnny Depp dalam memerankan karakter Jack Sparrow boleh dibilang sempurna.

The Pirates of The Caribbean: Salazar’s Revenge
Also known as The Pirates of The Carribbean: Dead Men Tell No Tales
129 minutes / PG-13
Sutradara: Joachim Rønning, Espen Sandberg
Cast: Johnny Depp, Javier Bardem, Geoffrey Rush, Brenton Thwaites, Kaya Scodelario

14 May 2017

Menemukan Enak, Sehat dan Jus Wortel dalam Satu Botol

Jus wortel itu mengandung vitamin A yang baik untuk mata. Karena teori itulah Dudu, yang hobi main game, jadi terobsesi dengan sayuran yang satu ini. Apalagi ketika iseng ikutan periksa mata sama saya, ternyata dia sudah ada minusnya.

Minusnya masih nol koma sekian, belum signifikan. Tapi anaknya keukeuh kalau dia tidak mau berkacamata karena tidak suka melihat seluruh keluarga yang berkacamata. Jadi jus wortel jadi jawabannya. Sudah sekitar 2 tahun terakhir anak ini rutin konsumsi jus wortel, setidaknya seminggu sekali. Tapi ini bukan berarti lantas saya santai karena kebutuhan serat dan vitamin anak sudah terpenuhi. dr Rida Noor SpGK menjelaskan bahwa “tubuh kita membutuhkan vitamin untuk mencerna dan vitamin ini adanya di buah-buahan dan sayur-sayuran. Setiap buah dan sayur memiliki komposisi yang berbeda-beda, maka itu makan buah dan sayur pun harus beragam.”

Satu botol VegieFruit (300ml) memenuhi 100% kebutuhan vitamin C harian

Lalu saya jadi menghitung jumlah sayuran yang disukai Dudu dan setidaknya yang mau dia makan. Brokoli, Bayam, Kangkung, kadang-kadang kacang panjang dan buncis. Buahnya hanya apel, pir, jeruk dan kalau dicerewetin dia masih mau makan semangka dan pepaya. Selesai menghitung itu saya kembali mendengarkan penjelasan dr Rida, yang merupakan bagian dari acara perkenalan minuman baru milik PT Kalbe Farma bernama Vegie Fruit. Vegie Fruit Premium adalah jus sayur dan buah yang terdiri dari wortel, jeruk dan nanas. Varian yang ini namanya Carrot Squeeze. Kombinasi ketiga buah dan sayur itu dipilih, selain karena vitamin A, C dan Beta Karoten bisa didapatkan di sana, jus buah-sayur ini juga merupakan kombinasi favorit banyak orang. “Berdasarkan survey ke pedagang jus, kombinasi inilah yang banyak dibeli orang,” demikan penjelasan Adelia Pramasita, Brand Manager Juice Category, PT Kalbe Farma. Jadi kombinasi ini enak tapi sehat. Atau kalau mengutip semangat brandnya, “it’s deleasyousvegie – Delicious and easy way to have veggie.”

11 May 2017

Cara Survive Nonton Film Rating Dewasa Bersama si Pra-Remaja

“Guardian of The Galaxy aman ngga? Pengen ajak anak nih.” Pertanyaan semacam ini sering muncul di timeline social media dan layar chatting saya. Buat Mama-mama dengan anak pra-remaja seperti saya ini, nonton film adalah satu kegiatan yang membuat khawatir. 


Definisi aman di sini agak rancu. Aman dari apa? Adegan kekerasan? Adegan dewasa? Karena gaya parenting saya sering berseberangan dengan orang tua kebanyakan, biasanya jarang merespon permintaan rekomendasi film, kecuali film tersebut benar-benar aman. Seperti Beauty and The Beast.

Nonton film adalah salah satu kegiatan ngedate favorit kami. Kalau ada film bagus, bisa setiap minggu kita pergi nonton. Kebetulan kami juga cocok seleranya karena sama-sama menyukai genre thriller-crime-action-mystery. Saya bukan fans zombie, namun kalau bicara detective atau action saya juga suka. Dan biasanya zombie identik juga dengan tembak-tembakan (kecuali mungkin Train to Busan yang malah berderai air mata haha). Tapi fim kartun juga sering menjadi pilihan, karena biar bagaimana Dudu kan jiwanya masih anak-anak. Untuk film non-kartun, saya biasanya berhenti di rating PG-13 yang dipasang MPAA. Di Indonesia, PG-13 (wajib didampingi orang tua karena beberapa adegan mungkin kurang sesuai untuk pra-remaja) ini bisa berubah jadi Remaja atau Dewasa, tergantung keputusan lembaga sensor lokal kita.

Dan postingan ini akan terbaca seperti pembenaran atas keputusan saya mengajak Dudu menonton film yang secara rating usia tidak ditujukan kepada anak-anak seumuran dia. Haha.

02 May 2017

Mau Dibawa Ke Mana Bloggingnya?

Saya kangen dengan dunia blogging yang dulu. Ketika yang namanya update postingan itu hanya untuk update kabar kepada keluarga di negeri seberang dan sekedar kenangan agar tidak hilang. Tapi dunia blogging yang berkembang sekarang juga seru karena saya dapat teman baru, ilmu baru dan yang pasti motivasi baru untuk ngeblog. Sekarang saya sedang berhadapan dengan pertanyaan: Habis ini mau apa lagi?

Kalau mau dibuat list, ada banyak skill yang bisa dikembangkan untuk blog ini. Infografis, fotografi dan bahkan membuat video. Tapi saya mulai blogging karena saya suka menulis, jadi kalau ditanya fokus ya maunya ke tulisan saja. Jadi maunya belajar SEO. Haha. Belum kesampaian sih ikutan workshop SEO yang bukan hanya pengenalan. Kebanyakan saya belajar sendiri, baca-baca di internet lalu batal diaplikasikan karena saya penulis idealis yang suka merangkai kata secara otomatis dan bukan karena berharap hasil bagus di search engine. Masih jadi tantangan untuk saya, bagaimana mempertemukan keyword dan alur cerita. Mungkin satu hari nanti bisa ada jalan tengahnya.

Semangat Blogging di Musim Semi
Apa lagi? Hm… Saya mau menulis buku. Buku yang bahannya dari blog saya. Seperti Trinity mungkin. Atau seperti My Stupid Boss.

01 May 2017

Traveling Berdua Anak itu Lebih dari Sekedar Jalan-Jalan

Sama seperti kata pepatah bahwa gunung biasanya mengungkap sifat asli seseorang, sebuah perjalanan pun biasanya dapat membuat kita lebih mengenal satu sama lain. Jadi, apa yang lebih baik daripada traveling berdua anak, terutama untuk mama bekerja seperti saya. 

Traveling berdua anak... eh, bertiga sama boneka Panda itu.
Partner traveling saya adalah seorang anak laki-laki yag gila zombie. Kita sering traveling berdua. Kalaupun akhirnya ada ketempelan teman dan saudara, kita selalu punya momen yang kita melipir kabur berdua saja. Soalnya, di tengah rutinitas yang semakin sibuk, traveling berdua bagi saya adalah cara untuk bonding dan membangun kenangan bersama Dudu.

Traveling hanya berdua anak, apa tidak dua kali lebih repot? Well, sebenarnya, buat saya justru lebih mudah karena kita tidak melulu harus kompromi tujuan wisata karena toh si anak akan mengikuti saja. Tidak perlu sungkan kalau nyasar, tidak perlu dilemma kalau mau pergi ke tujuan wisata dan tidak pusing menyusun itinerary. Komprominya lebih ke jadwal makan dan tidur siang haha. Setelah anak besar, mungkin ada negosiasi sedikit di sini dan di sana. Misalnya ketika saya merencanakan trip ke Korea, Dudu yang fans berat zombie ini minta mencoba naik KTX ke Busan. 

Coba tanya Vita Masli bagaimana rasanya ngetrip berdua teman.

Saya dan Dudu lebih sering pergi backpackeran. Naik pesawat budget, nginep di hostel, jajan di pinggir jalan, jalan kaki dan naik transportasi umum ke mana-mana. Jaman di Amerika dulu lebih extreme sih, kita sering roadtrip berdua, tanpa booking hotel, lalu begitu gelap kita belok ke motel terdekat. Jaman masih pakai peta dan belum ada GPS jadi ya tinggal di penginapan seadanya, yang penting chain motel dan tidak terlihat seram. Tambah repot dong? Well, ini triknya:

Pergi Backpacker berdua anak, mulai dari mana?

29 April 2017

Singapura: Perdana Bertamu ke Rumah Saudara

Kalau boleh memilih Negara manapun di dunia untuk jadi tempat tinggal, saya memilih Singapura. Soalnya kalau di Asia Tenggara, Singapura itu ibarat G-Dragon (buat yang ngga paham boleh tanya Google kok haha). Bukan yang paling tua (umurnya), bukan yang paling tinggi (badannya) tapi inovatif, dan meninggalkan kesan mendalam ketika bertemu. Ya semacam kakak pertama yang cool tapi imut-imut gitu.
Taman di Gedung Catatan Sipil Singapura
Singapura ini sudah jadi “saudara” buat saya karena memang banyak kerabat yang pindah ke sana. Adik saya di sana, sepupu saya di sana, dan saya sendiri senang bolak-balik ke sana. Kalau sudah jenuh dengan suasana macet dan panas Jakarta, saya segera browsing tiket untuk berakhir pekan di Negara tetangga itu. Untuk saya dan Dudu, Singapura ini menyenangkan karena kita menemukan hal-hal yang tidak ada (atau masih dalam pembangunan) di Indonesia. Kalau dalam saudara, seperti punya kakak yang lebih pintar dan lebih kaya lalu kita bisa datang bertamu dan numpang ganti suasana di rumahnya.

Saya sering dapat pertanyaan, “kalau pertama ke Singapura, saya sebaiknya ke mana?” Ada banyak faktor yang menentukan tujuan Anda. Sama siapa, sukanya apa, dan berapa lama. Standar kunjungan orang Indonesia ke Singapura biasanya akhir pekan, jadi 3 hari 2 malam. Jadi, coba saya jawab rasa penasarannya ya.

26 April 2017

Gaji Pertama Dudu Dipakai Untuk Apa?

Gaji pertama waktu kerja dipakai untuk bayar sekolah anak. Gaji pertama waktu part-time dipakai untuk biaya kuliah. Cerita gaji saya sepertinya tidak ada yang menarik yah. Jadi kita cerita gaji pertama Dudu saja.

Yang pernah ketemu Dudu mungkin pernah mendengar kisah “Gaji Yang Tertukar,” alias gaji dia yang diambil saya lalu tidak pernah kembali lagi. Maklum, saat awal dia gajian, saya yang seorang single parent ini sedang struggling membayar uang sekolahnya. Jadi gajinya sering saya pinjam untuk kebutuhan sehari-hari juga. Dan karena biasanya gaji pertama itu buat traktir orang tua dan bikin mereka bangga. Hahaha. 

Gaji itu uang yang didapat saat kerja. ~Dudu
Iklan TV pertama Dudu - gajinya ditabung buat bayar uang pangkal TK.
Gaji pertama Dudu adalah dari sebuah pemotretan di majalah Parenting Indonesia. Pemotretan yang hanya 10 menit dengan bayaran lumayan. Kalau dihitung-hitung, gaji dia saat itu lebih besar daripada saya dengan pekerjaan yang relatif mudah hanya senyum-senyum. Apalagi di gaji pertama itu, pemotretannya cenderung mudah karena dia hanya perlu bermain dengan sebuah roket-roketan. Membuka, menutup pintu roket, memainkan astronotnya naik turun roket.

25 April 2017

Karena Ngeblog itu Butuh Kopi Hitam

Minggu kemarin penyanyi Kpop favorit saya merilis lagu berjudul Hibernation (겨울잠) dan saya merasa tersindir karena blog saya lagi sepi postingan. Ibarat di hutan, beruang tidur saja sudah bangun dan mulai cari makan, blog saya masih hidup seadanya dengan sisa-sisa energi musim dingin.


Nulis itu Dipraktekin. Salah satu buku pegangan saya sambil ngopi.


Ya persis seperti lirik lagu itu

깨우지 말아요 지금이 좋아요
(Don’t wake me up, I’m happy right now)
꿈인지 현실 인지 모를 만큼
(I don’t know whether this is a dream or reality)
나는 조금만 더 잘게요
(I’m gonna sleep a little more)

Karena kita sudah ganti musim, semangat ngeblog juga harus baru. Terus penyemangatnya apa? Sebagai seorang Cancer sejati, yang moodnya berubah tiap 24 menit sekali, musik mungkin paling tepat. Musik, kopi dan di mana saja yang pas dengan mood saat itu. Tempat asyik ngeblog ngga cuma di cafe. Kadang saya suka ganti suasana dan ngeblog di tempat-tempat aneh seperti Pasar Seni, kolam renang hotel dan pernah juga di playground menunggu Dudu main. Karena kesibukan yang tak kunjung reda, dan mood yang sering muncul di pagi hari, saya juga sering ngeblog di mobil di tengah kemacetan dengan musik yang dikoneksi ke bluetooth radio mobil. Kopi biasanya tersedia dalam cup to go atau tumbler di dekat persneling. Tapi itu hanya berlaku untuk tema blog macam ini yang tidak membutuhkan extensive research atau interview si Dudu. 

24 April 2017

Big Bad Wolf 2017: Belanja Buku Bersama Dudu di Jam Dua Pagi

Saya baru pulang dari bergadang (lagi) di Big Bad Wolf Book Sale. Itu lho, bazaar buku import di ICS BSD. Tahun ini saya bawa Dudu. Pergi selepas tengah malam, kami bertahan sampai menjelang matahari terbit. Berangkat dengan komentar Mama Papa yang heran si Dudu yang segar, semangat mau pergi ke book sale malam-malam. 


Bagaimana Dudu, yang selalu tidur on-time jam 9 malam dan bangun jam 6 pagi ini, bisa bergadang? Ini tips bergadang ala Dudu:
  • Pastikan bisa bertahan semalam. Jangan tertidur di bazaar buku.
  • Tidur pagi bangun malam jadi tidak kurang tidur karena kurang tidur tidak baik untuk kesehatan.
  • Bangun malam siapin makanan karena mungkin saja lapar.
  • Jangan bergadang sendirian. Kalau mau pergi malam-malam harus ditemani Mama karena siapa tahu di jalan ketiduran dan harus dibangunin lagi.
  • Coba minum kopi. Kecuali aku. Aku tidak mau hahaha.

23 April 2017

Sinetron 90an: Keajaiban Jinny oh Jinny

Suatu pagi di akhir pekan (ceritanya – soalnya saya bisa ada di rumah jam segitu pasti itu akhir pekan), saya menemukan Dudu sedang nonton sinetron yang familiar. Judulnya Jinny oh Jinny. Adegannya si Jinny yang berubah jadi anak SMA demi nge-judesin cewek yang mendekati si Bagus. Lalu saya melihat ada yang aneh. Hah? Kenapa bajunya Jinny disensor?

Melihat wajah saya yang bengong, Dudu bertanya kenapa.
Mama: Itu, si Jinny bajunya kenapa disensor. Jaman Mama nonton dulu kayaknya dia ngga apa-apa.
Dudu: Ya jelas dong, Ma, soalnya si Jinny ini termasuk seksi.

Oh Jinny seksi ya?

Ya namanya juga jin yang keluar dari kerang dengan pakaian gaya Princess Jasmine. Kalau Sandy-nya Spongebob dan Elsa-nya Frozen saja tidak lolos sensor, apalagi Jinny? 


09 April 2017

Memesona Itu Mengapresiasi Keunikan Diri Sendiri

Ternyata jaman sekarang, cantik saja tidak laku. Kita juga harus memesona agar bisa dilirik, stand out dari ribuan orang yang ada di sekitar kita. Memesona itu bagaimana maksudnya? Kalau ditanya begitu, saya jadi bingung juga. Memesona itu bisa membuat orang (saya) berhenti sejenak, tertegun, menghargai apa yang dilihat atau didengarnya, dan tersenyum kembali ketika mengingatnya.


Menjadi diri sendiri bisa berarti mendadak menemani Dudu cosplay (abaikan zombienya)
Kemarin, saya dan Dudu melihat pelangi muncul dari atas billboard di tengah kemacetan. Saking terpesonanya kita sibuk foto-foto lalu diklakson orang karena tidak kunjung maju padahal di depan sudah kosong. Ups. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, memesona itu juga bisa hadir dalam bentuk benda atau pemandangan. Yang penting adalah hal-hal yang stand out dari kerumunan. Dan saya sadar bahwa setiap orang memiliki pandangan yang berbeda tentang apa yang memesona bagi mereka. Kasus pelangi di atas, kebetulan saja saya dan Dudu memiliki pendapat yang sama. Seperti ketika kita nonton acara pemilihan putri dan miss kecantikan yang sering ditayangkan di TV itu, jagoan kita seringkali berbeda dengan orang lain. Bahkan dengan jagoan yang ada di kepala juri. Yang memesona kita belum tentu memesona juri dan pentonton di studio. Jadi memesona itu sebenarnya subjektif juga ya.

Contohnya? Astaga, apa ya?

06 April 2017

Trik Mengatasi Anak Malas Mandi

Setiap weekend, saya harus menghadapi problematika mandi dengan seorang anak 10 tahun yang mulai membantah dan ngeles kemana-mana. Kalau sekolah libur, mandi juga libur. Namanya juga Dudu.

Mama: Jadi, kamu kemarin sore mandi ngga?
Dudu: Ngga.

Mama:Tadi pagi? 
Dudu: Ngga juga. (sambil cengengesan)
Padahal mandi kan ya buat dia sendiri, sebal jadinya. 

Ini kamar mandi Dudu - temboknya gelap jadi kontras sama sabunnya haha.
Akhir bulan kemarin pas dia libur tengah semester, setiap pagi mau berangkat kantor, pesan saya cuma satu: Jangan Lupa Mandi! Tapi tetap saja kalau saya pulang kantor, saya akan menemukan anak cengar cengir yang bilang kalau dia lupa lagi untuk mandi. Kenapa sih anak ini susah sekali mandi?

Sebenarnya Dudu bukan tidak suka air. Dia paling suka berenang dan yang namanya hotel bagus di mata dia adalah punya bath tub dan kolam renang. Dua hal tersebut menduduki 2 dari 5 bintang yang ada di review Dudu untuk hotel. Lalu kenapa dong dia tidak mau mandi. Hasil browsing menyebutkan sejuta alasan anak menolak mandi, cuma dari Dudu saya mendengar kata "oh iya lupa." Haha. Well, kalau saya lihat, mandi tidak menjadi kegiatan favoritnya karena Dudu punya kulit sensitif. Dari kecil mukanya sering merah-merah, dan sampai sekarang pun kalau salah pakai sabun bisa satu badan merah-merah. Kasihan juga sih. Seringkali dia bertahan menggunakan sabun bayi, tapi di usia yang sudah 10 tahun ini, sabun bayi sudah tidak mempan. Bau asem plus keringat, apalagi kalau pulang PE dan playdate bersama teman-temannya.

Tapi apapun alasannya, mandi itu penting. Jadi inilah yang saya lakukan biar Dudu tidak "lupa" mandi.

05 April 2017

One Afternoon at Peter Pan On Ice

Sederetan anak yang duduk di depan saya dan Dudu ribut sendiri. Padahal babak kedua Peter Pan on Ice sudah mau mulai. Masalahnya ada murid cewek yang tidak mau duduk sebelahan sama murid cowok. Biasalah, umur mendekati ABG, duduk sebelahan saja sudah “cieee.” Lalu pindah lagi, berdiri lagi, minta temannya tukaran tempat duduk lagi. Hadeeh.

Dudu:
Kenapa mereka, Ma?
Mama: Biasa, Du, seumuran kamu pasti itu. Kalo sama cowok sok jijik.
Dudu: Seperti teman-temanku kalau aku pegang langsung lari.
Mama: Iya, lagi jamannya. Nanti 10 tahun lagi bakalan meluk cowok ngga mau lepas seperti perangko.
Dudu: Ooo sudah pacaran ya, Ma?

Dan sepertinya percakapan kami terdengar oleh anak-anak tersebut karena mereka langsung duduk rapi sambil takut-takut menoleh ke belakang, mencari Mama edan yang membahas topik pacaran dengan anaknya seperti membahas mau makan apa malam itu.




Lalu Babak keduanya dimulai, tapi drama muncul di sekitar kita berdua yang mungkin salah pilih tempat duduk. Soalnya kanan kiri dan belakang penuh anak-anak cowok seumuran Dudu yang berisik ngobrol sendiri. Sampai saya menoleh terus bilang “Ini anak sekolah mana ya? Bisa tenang?” Lalu semuanya berusaha duduk diam, meskipun masih ada beberapa adegan “sst… sst” dari teman-temannya. Setidaknya setelah itu saya lebih fokus nonton Peter Pan on Ice.

03 April 2017

Smurfs: The Lost Village

Another Monday, another movie, another no-parents playdate. Kali ini filmnya Smurfs: The Lost Village.

Membaca sinopsisnya ketika menuliskan preview film ini untuk internal newsletter sebuah perusahaan, saya jadi paham kenapa film ini ditunggu oleh Dudu. Soalnya dia punya pertanyaan yang notabene sama dengan semua orang: Kenapa Smurf yang Perempuan hanya Smurfette?


Dan film Smurfs: The Lost Village memberikan jawabannya. Singkatnya: “Smurfs the Lost Village menceritakan tentang Smurfette yang tak tahu siapa dirinya dan apa dirinya.”

Smurfs: The Lost Village
Sutradara: Kelly Asbury
Pengisi Suara: Ariel Winter, Joe Manganiello, Michelle Rodriguez, Julia Roberts, Demi Lovato and more
Durasi: 89 menit
Rating MPAA: PG (Di Indonesia jadi Semua Umur/SU) 
Film ini bercerita tentang Smurfette (Demi Lovato) bertemu dengan Smurfs lain di hutan terlarang. Smurfette pun merasa penasaran dan pergi ke hutan terlarang. Smurfette Hefty (Joe Manganiello), Brainy (Danny Pudi) dan Clumsy (Jack McBrayer) pun pergi ke hutan terlarang sampai dikejar Gargamel (Rainn Wilson). Mereka pun menemukan desa lain yang di penuhi Smurf cewek. Gargamel pun menculik mereka. Bisakah meraka menyelamatkannya? ~Dudu

27 March 2017

Power Rangers: the Upgraded Story

Monday movie blogpost hari ini akan ngobrolin Power Rangers. Yes, film yang itu. And thanks to XY Kids, kita bisa nonton di hari pertama tayang, plus foto-foto bareng cosplayers yang keren itu. It's Morphin Time!


Alkisah 20 tahun yang lalu, saya dan kedua adik saya ngefans berat sama Power Rangers sehingga setiap ada yang minta usulan nama anak, kita selalu mengajukan Jason dan Kimberly. Sekarang generasi sudah bergeser dan giliran Dudu yang jadi penggemar kelima superhero ini. Seiring dengan kemajuan jaman, kita juga harus merelakan Power Rangers berubah menjadi lebih update dengan generasi sekarang.

Atau istilah yang saya baca di meme twitter: Remember the past, embrace the future.

Sepanjang bulan Maret, setiap ngedate saya selalu mendengarkan si Dudu menirukan dialog trailer Power Rangers.
"You are the Power Rangers... So we're somekind of Ironman? Spiderman?"
"Are you crazy? We're talking to a wall."
"So, me and four other kids met an alien spaceship and now we're superheroes.... Brakkk.... Pee in the cup."
Semacam itulah. Dan ketika adegan-adegan itu satu per satu muncul di filmnya, saya jadi merasa sudah pernah nonton hahaha.


Power Rangers
Starring: Dacre Montgomery, Naomi Scott, RJ Cyler, Ludi Lin, Becky G, Elizabeth Banks
Rating MPAA: PG-13 (di Indonesia jadi R13+)
Durasi: 124 Menit

24 March 2017

What's New: Mickey and the Roadster Racers

You can never be too old for Mickey Mouse.

Saya masih ingat ketika Dudu pertama kali kenal Mickey Mouse dan seluruh isi clubhousenya. Bahkan ketika kita sudah tinggal di Indonesia, Mickey Mouse masih menjadi teman setia bersama serial Disney lainnya. Kali ini Mickey Mouse dan teman-temannya kembali dengan serial baru dan tantangan baru yang lebih seru. Judulnya “Mickey and the Roadster Racers” yang tayang perdana hari Jumat, 24 Maret 2017 jam 13:30 di Disney Junior, Disney Channel, dan Disney XD.




Serialnya sendiri sih akan tayang setiap hari jam 13.30 di Disney Junior dan jam 07:00 pagi di Disney Channel.


Karakternya sendiri masih sama: Mickey, Minnie, Donald, Daisy dan Goofy. Kalau sedang berada di bengkel maka kita juga akan bertemu Pluto. Dan masih sama seperti Mickey Mouse Clubhouse yang fun, serial ini juga mengedepankan problem-solving yang membuat Mickey dan kawan-kawannya jadi superhero. Yang berbeda adalah mobil-mobil keren yang bisa bertransformasi ketika dibutuhkan untuk balapan di kota mini-metropolis di Hot Dog Hills.

23 March 2017

Travel Writing Secrets by Marischka Prudence

Saya selalu ingin punya blog khusus travel yang suatu hari nanti bisa jadi buku. Tapi maju mundur terus karena blog yang utamanya aja tidak terurus dengan baik. Lalu kemarin, demi menyemangati diri, saya ikut Arisan Ilmu KEB bersama Travel Blogger Marischka Prudence yang di akhir kisahnya curhat hal yang sama. Yang sulit itu memang konsistensi.

Well, saya senang ternyata saya tidak sendirian. Haha.




Lalu saya galau lagi, travel blog yang saya belikan domain berbayar itu maunya pakai bahasa Inggris. Tapi gimana ya? Kan pembaca saya juga kebanyakan orang Indonesia. Entah bagaimana, Prue, begitu biasanya travel blogger yang satu ini dipanggil, juga memberikan jawabannya. “Dengan menjadi spesifik, kita harus tahu apa yang kita lepaskan,” begitu katanya, tapi dengan tambahan yang melegakan hati karena kita juga mendapatkan something in return. “Blogging tentang traveling adalah berbagi kesenangan. Kalau kita berhasil membuat orang lain pergi itu juga berbagi kesenangan.”

Tapi, berbagi kesenangan juga bukan berarti asal cerita. Harus ada manfaatnya bagi orang lain. Karena itulah, Sabtu pagi kemarin saya duduk manis mendengarkan cerita Prue tentang travel writing. Where to start, what to do and how to make the most out of your journey. Who knows, you learn a new knowledge everytime.

20 March 2017

Cinta Negeri Dongeng di Beauty and The Beast

Percakapan ini terjadi di mobil kemarin sepulang nonton Beauty and the Beast.
Mama: Kalau jadi Disney Princess, Mama mau jadi Elsa atau Belle...
Dudu: Sleeping Beauty kali, Ma.


Lalu dia tertawa puas banget bisa jahilin saya. Asem emang anaknya. Semacam si Chip, cangkir teh yang tidak bisa berhenti ngomong itu. 




Welcome to Movie Monday, postingan yang bertekad untuk ngomongin film di hari Senin. Hari ini ceritanya tentang Beauty and the Beast yang kita nonton weekend kemarin. 

Beauty and The Beast (2017)
Starring: Emma Watson, Dan Stevens, Luke Evans, Josh Gad
Sutradara: Bill Condon
Durasi: 129 menit
MPAA Rating: PG (Indonesia 13+)

Coba simak versi Dudu berikut ini:
Beauty and the Beast bercerita tentang seorang pangeran yang dikutuk, dan semua yang hidup di sana berubah jadi barang antik. Suatu hari, kakek-kakek tersesat di hutan dan tak sengaja menemukan kastil pangeran terkutuk itu. Setelah malam berlalu, anaknya si kakek pun mencari dia di hutan dan menemukan si kakek dipenjara. Terus dia bertemu pangeran yang terkutuk dengan versi makhluk menyeramkan. Akhirnya pun dia bertukar tempat dengan si kakek. Dia mulai khawatir dengan ayahnya, dengan kehidupannya dan dengan apa yang akan terjadi. 
Akhirnya dia dipindahkan ke ruang bagus, punya makan malam dan dikasih berbagai hal dari pelayan-pelayan pangeran yang dikutuk. Si pangeran dan di gadis pun mulai berteman, dan setiap hari hubungan mereka berlanjut. Dan saat melihat keadaan ayahnya lewat cermin ajaib, si buruk rupa membiarkan dia pergi. Setelah mendengar cerita si cantik, penduduk desa pun takut dan mulai menyerang kastilnya. Si buruk rupa dan pelayan-pelayannya pun bertarung dengan penduduk desa, mereka pun menang. 
Tak lama kemudian si Belle kembali dan dia mematahkan kutukan kastilnya.

19 March 2017

Fangirling dari Sudut Pandang Seorang Mama

Saya menyebutnya “gila karena idola”. Bukan hal baru karena 20 tahun lalu saya juga sibuk ngefans parah sama Backstreet Boys, yang berlarut-larut sampai kuliah saja maksa harus ke Amerika. Lalu ada F4, yang sempat membuat saya ganti selera, plus maksa kalau mudik itu transitnya pasti di Taiwan. Sekarang namanya “fangirling,” dan yang diikuti adalah artis Korea. Same phenomenon, same style, same effect. Ada positif, ada juga negatifnya, apalagi buat saya yang punya tugas tanggung jawab sebagai Mama Dudu.

Ketika mention-mentionan di Twitter berlanjut di Whatsapp dan akhirnya menetapkan Fangirling sebagai tema postingan bersama Vita Masli, saya jadi merenung. Di usia yang sudah mendekati 35 ini memangnya masih pantas fangirling ya? Hahaha. Well, just like how boys will be boys, I believe there’s a little girl in every woman. 


Baca postingan Vita Masli tentang Fangirling dulu dan sekarang


Positifnya:

Motivasi Belajar Bahasa Baru
Saya punya bucket list belajar 7 bahasa sebelum usia 30 dan di tengah kerja, ngurus anak dan lainnya saya lupa sama tekad yang satu itu. Sampai akhirnya saya jadi ELF yang putus asa dengan terjemahan di konser dan lelah menanti subtitle drama serta variety show. Apalagi setelah menyadari bahwa bias saya bahasa Inggrisnya hampir tidak ada. Apalah arti 4 jam seminggu dan 800rb/semester untuk bahasa baru yang memungkinkan saya komen di sosial media bias dan paham celetukan dia. Jadilah di usia ini saya ikut kursus Bahasa Korea dan sekarang sudah masuk level 2. 

Berharap yang mengajar bahasa Korea itu begini gurunya. 
(photo: My Korean Teacher movie)

12 March 2017

Doraemon and No-Parents Movie Playdate

Minggu ini saya dihadapkan dengan frustrasi absennya film bagus dari bioskop. Padahal Dudu sudah selesai ujian dan kita berharap ada film yang bisa kita saksikan bersama di bioskop. Ternyata, mengecek ke semua jaringan bioskop yang ada, tidak satupun menayangkan film yang rasanya akan disukai Dudu. Di tengah keputusasaan itu, saya melihat ada 2 bioskop XXI di Jakarta Utara yang menayangkan film Doraemon.

Surprise.


Bisa ditebak kita akhirnya berangkat ke sana, dan Dudu playdate perdana nonton bioskop hanya anak-anak kecil saja. Masih dengan gank playdate yang sama, anak-anak yang satu kereta ke Malang dan satu pesawat ke Singapura kemarin. Bioskopnya penuh, karena studio tempat Doraemon tayang termasuk kecil. Jadilah Dudu hanya nonton bertiga dengan dua temannya, anak-anak semua. 


Doraemon: Nobita and the Birth of Japan
Doraemon Nobita no Nippon Tanjō
Pengisi Suara: Nobuyo Oyama, Noriko Ohara, Michiko Nomura
Durasi: 100 menit

Movie Doraemon yang merupakan remake ini bercerita tentang Nobita yang hendak lari dari rumah. Hanya saja sekali ini dia tidak sendirian karena sahabat-sahabatnya: Suneo, Giant, Shizuka dan bahkan Doraemon juga memutuskan untuk lari dari rumah. Tidak menemukan tempat tinggal karena tanah di jaman ini sudah ada yang punya semuanya, mereka semua kemudian memutuskan untuk kembali ke masa lalu saat tanah belum ada pemiliknya dan bisa bebas digunakan untuk kabur dari rumah.

Eh tunggu, karena yang nonton film ini kan si Dudu ya, biar dia saja yang lanjutin.

13 February 2017

The LEGO Batman Movie

Sepanjang Minggu pagi, Dudu bernyanyi: "My best friend, you’re my best friends and friends are family, friends are family." 

Mama:Lagu apaan sih, Du?
Dudu: Lagu Batman Lego kemarin.
Mama: Filmnya bagus?
Dudu: Bagus kok.
*Lalu si Dudu mulai memperagakan adegan ketika Batman diberitahu Alfred bahwa dia sudah mengadopsi anak dan Dick Grayson sudah tinggal di Wayne Manor selama seminggu.





The LEGO Batman Movie ini dimulai dari keberhasilan Batman menggagalkan skema terakhir Joker dalam menghancurkan Gotham City dan meninggalkan si archenemy patah hati karena tidak diakui oleh sang superhero sebagai "musuh utama". Joker dan teman-temannya kemudian menyerahkan diri karena baper. Ceritanya tidak berakhir di situ karena setelah Joker dipenjara, Batman jadi bingung apa yang harus dia lakukan. Terlebih lagi ketika Komisaris Gordon pensiun dan digantikan putrinya, Barbara, yang sangat kompeten. Intinya Batman kesepian.

Robin: Wait, does Batman live in Bruce Wayne's basement? 
Batman: No, Bruce Wayne lives in batman's attic

06 February 2017

Vitamin C Penyelamat di Saat Harus Jadi Sehat

Musim hujan yang tadinya seperti ragu-ragu jadi yakin pasti mendung tiap hari sejak Imlek minggu lalu. Pokoknya tiada hari tanpa awan abu-abu bertengger mengikuti perjalanan saya. Hanya butuh 3 hari buat saya jadi demam dan tumbang, padahal pekerjaan kantor sedang demanding. “Makanya jangan lupa minum vitamin C,” begitu omelan Mama setiap kali di rumah ada yang bersin, batuk, bibirnya merah atau mulai terlihat tidak sehat.

Nasihat itu membuat saya berpikir kalau vitamin C adalah obat ajaib segala penyakit haha. Mungkin ada benarnya ya. Asupan dosis Vitamin C yang tepat memang dapat meningkatkan system kekebalan tubuh dan menjaga elastisitas kulit. Lalu, bagaimana kita tahu sudah mengkonsumsi dosis yang tepat? Mama biasanya membekalkan suplemen vitamin pada saya.




Pilihannya ya CNI Ester-C Plus, yang mengandung dosis yang dianjurkan penelitian yaitu 625mg Ester C atau setara dengan 500mg Vitamin C. Dan menurut studi yang dilakukan para peneliti University of Michigan, dosis ini dibutuhkan bahkan bagi mereka yang mengkonsumsi sayur dan buah secara rutin. Melihat rekomendasi jumlah sayur dan buah untuk konsumsi sehari-hari, saya sudah jelas jauh dari angka tersebut. Ada sayur dan buah di porsi makanan saya saja sudah untung. Maka dari itu, omelan Mama sebenarnya benar haha.

01 February 2017

Staycation at Double Tree Jakarta

Melewati gerbang masuk hotel ini seperti melewati pintu kemana saja milik Doraemon, yang dalam sekejap mengubah hiruk pikuk kawasan Cikini menjadi kedamaian ala private resort di Bali. Ini cerita staycation favorit kita. Welcome, to paradise, maksud saya, Welcome to Double Tree by Hilton Hotel Jakarta – Diponegoro.




Flashback beberapa tahun yang lalu, ketika Dudu dapat panggilan photoshoot majalah wedding, di sebuah hotel di Cikini. Serius nih? Ketika membayangkan Cikini, yang ada di kepala saya ya, TIM, Stasiun, Cikini Gold Center, Pasar Bunga dan Megaria. Sederetan coffee shop dan restoran Indonesia berderet di sepanjang jalan satu arah itu. Entah bagaimana, di tengah-tengah itu semua ada satu hotel bintang lima yang bersembunyi. Tidak heran kalau photoshoot cover majalah wedding pun dilakukan di hotel itu. Dan ketika saya mengantar Dudu bekerja itulah, saya jadi punya cita-cita mau staycation di hotel ini.

08 January 2017

New Year, Brighter Future

Saya memperhatikan Dudu yang sibuk mencatat. Ini anak ngapain ya? Tumben-tumbenan. Biasanya hanya saya yang sibuk menulis sementara dia main game, tapi hari itu dia tampak antusias menyimak dan mencatat apa yang disampaikan narasumber di sebuah acara ketemuan Blogger The Urban Mama berjudul Bright Future.


Lalu ketika saya menuliskan reportase ini, saya melihat-lihat kembali catatannya dan menemukan beberapa poin menarik tentang Kampanye yang diadakan Unilever ini. Tapi sebelum kita intip catatan super berantakan milik Dudu, coba kita menyimak apa kata para narasumber dulu.

KATA LANI
Acara yang merupakan kerjasama Unilever dan Blibli.com ini mengajak para Mama sebagai konsumen Unilever untuk mewujudkan masa depan yang cerah. Caranya? Well, menurut Lani Rahayu, Senior Marketing Communication Manager Blibli.com, para Mama ini menguasai 95% keputusan rumah tangga. “Para Mama punya power untuk memilih produk apa yang dibeli, yang digunakan oleh keluarga, jadi kenapa tidak mendukung bright future?” Di Bulan Desember kemarin Blibli.com berkampanye dengan Unilver dan setiap customer membeli produk tertentu, mereka ikut menyumbang Rp. 1000 untuk program bright future ini, termasuk membangun taman dan RPTRA. Jadi yang kemarin sempat kalap belanja kebutuhan rumah tangga macam Blueband dan Pepsodent pas Harbolnas bolehlah berlega hati sedikit karena bukan hanya spending tapi juga secara tidak sadar kita sudah helping out.

05 January 2017

3 Tempat Seru Karoke Akhir Tahun

Rasanya setiap tahun baru saya selalu pergi karaoke. Tahun ini, karena Dudu dibawa pergi adik saya ke Surabaya, saya jadi mencari kegiatan sendiri dan karaoke ada di urutan teratas to-do list saya. Pertanyaanya tetap: di mana? Google search (believe it or not) tidak membawakan hasil yang memuaskan. Beneran nih, tidak ada yang menulis tentang tempat karaoke recommended? Jadilah, Jumat-Sabtu-Minggu kemarin saya pergi bersama seorang teman, mencoba beberapa tempat karaoke di Jakarta, well, Selatan. 


JUMAT
Inul Vista Plaza Semanggi

Harga Room Small: Rp. 125,000/jam sudah termasuk tax n service

LIKES: Lagunya cukup lengkap. Buat saya yang kalau karaoke selalu Kpop dan Jpop, Inul ini koleksi lagunya lumayan. Ruangannya bersih, lebih bersih daripada beberapa Inul Vista yang pernah saya kunjungi. Lalu lampunya terang, jadi pas foto hasilnya keren haha. Lokasinya di Mall, jadi tidak perlu memikirkan parkiran. Ada penanda waktu di sudut kanan atas jadi mudah untuk tahu bisa nyanyi berapa lagu lagi.





DISLIKES: Mesinnya sempat macet dan harus di-restart. Jadi kita sudah hilang 10 menit di awal. Lalu harganya termasuk mahal dibandingkan yang lainnya. Ruangannya dingin, soalnya pas kita masuk baru AC dinyalain (ditanya suhunya lalu kita yang salah prediksi) dan meski sudah bilang di keatasin saja, sama petugasnya tetap di swing. Jadinya kita agak kedinginan. Masih menggunakan remote tradisional jadi kadang saat mencari lagu, tulisan yang muncul menutupi teks karaokenya.