13 May 2018

Book Review: Sad Girls by Lang Leav

“We all need to follow our intuition, even if it takes us down the wrong path. Otherwise, you’ll always be second-guessing yourself.”

Sepotong nasihat tersebut diberikan seorang publisher kepada tokoh utama yang bekerja menjadi seorang jurnalis di korannya. Audrey, sang tokoh utama, saat itu sedang galau dan memutuskan untuk resign dan pergi ke Colorado untuk memulai hidup baru. Sebuah perjalanan jauh mengingat setting cerita ini adalah Sydney, Australia.


Menyelesaikan buku karya Lang Leav ini jadi prestasi sendiri untuk saya, karena saya jarang baca buku yang terlalu cewek. But I think if I can finish this, then the book is not girly enough. Haha. Tokoh utamanya cewek, punya sahabat dekat cewek. Lalu konfliknya seputar pacar, ekspektasi orang tua dan mengejar mimpi. Lah, apa serunya? Yang membedakan buku ini dan mungkin buku-buku “coming-of-age” lainnya adalah di sini ada yang mati. Iya, mati. Dan karena saya selalu bilang kalau saya akan baca buku dan nonton film drama jika ada yang mati atau adegan tembak-tembakannya, saya meniatkan diri baca buku ini. 



Sad Girls
Pengarang: Lang Leav
Halaman: 362
Paperback
Tahun: 2017

Tapi sebelum lanjut, untuk yang sudah pernah baca puisi karya Lang Leav sebelumnya, jangan expect too much dari karya fiksinya. Baca saja, enjoy ceritanya dan abaikan bagian yang menurut kalian aneh.

01 May 2018

Overcooked!: Game buat Mama yang Tidak Bisa Masak

Lupa kalau sedang menanak nasi di ujung sebelah sana, saya sibuk memotong lalu menggoreng ayam dan membuat kebakaran setempat. Lalu saya disalahkan Dudu yang harus mengulang masak nasi. Padahal burritonya hampir jadi, diserving dan kita tidak perlu kehilangan poin.

Yah, mau di dapur beneran atau di game Overcooked! PS4, saya memang gagal melulu kalau memasak.

Overcooked!
Rated E for Everyone
(Mild Cartoon Violence)
Developed by Ghost Town Games 



Kerjaan saya dan Dudu di hari libur kejepit kemarin adalah main Playstation 4. Console yang sudah jadi penghuni rumah saya selama kurang lebih 10 bulan itu sekarang sudah ditemani banyak game. 90%nya game zombie, open world dan first-person shooter punya Dudu. Tapi ada satu game lucu dengan rated E (alias semua umur) diantara game yang harusnya untuk 17 tahun ke atas itu. Judulnya OVERCOOKED!.

08 April 2018

Merencanakan Playdate Jelajah Nusantara dengan Fitur Eksplor Skyscanner

Saya sedang mentok mau liburan ke mana lagi.

Baru juga awal tahun kemarin saya dan geng Mama Playdate pulang dari Korea, tapi kami sudah mau merencanakan liburan berikutnya. Dan tidak seperti playdate sebelumnya, kali ini kami bertiga mentok ide.


Singapore mahal, kata teman saya. Dalam negeri aja gimana?
Tapi dalam negeri mau ke mana? Bromo lagi? 



Beberapa tahun lalu, kami bertiga beserta keluarga masing-masing pernah “terjebak” 16 jam di gerbong kereta Gajayana menuju Malang. Trip playdate perdana keliling Malang, Batu dan niat melihat sunset di Gunung Bromo. Tidak kesampaian karena terlalu berkabut. Dari situ, playdate dalam bentuk liburan jadi semacam tradisi. Kemudian para Mama dan anak-anak Playdate ke Singapura. Main-main ke Universal Studio di Pulau Sentosa, Legoland di Malaysia dan menginap ramai-ramai di satu hostel dengan bunk bed. Awal tahun ini, berkat tiket pesawat Garuda Indonesia dengan harga terjangkau yang kebetulan available pas malam Tahun Baru, kita berangkat Playdate ke Korea.

Sekarang kita blank mau pergi ke mana lagi buat Playdate berikutnya. Tapi tujuannya sudah pasti: dalam negeri alias jelajah nusantara aja.

Udahlah, Bromo lagi aja kan kemaren kena kabut jadi belom liat matahari terbit. Mending kita beli tiket pesawat ke Surabaya trus nyewa mobil ke Malang.


Not a bad idea sih.

Tapi tetap saja saya merasa basi kalau harus mengulang satu destinasi. Terus, mau dibawa ke mana dong liburan kita? Dalam merencanakan #DateWithDudu versi liburan, saya selalu mulai dari tanggal. Setelah tahu ada berapa hari yang bisa digunakan jalan-jalan, maka saya baru memilih destinasi. Selalu begitu sampai saya mengenal fitur eksplor yang ada di Skyscanner. 

06 April 2018

K-Drama with Dudu Episode 2: Menuju Matahari Terbit di Laut Musim Dingin

Sokcho?

Ahjumma penjaga loket bis sampai bengong dan menuliskan S-O-K-C-H-O dengan alfabet. Tidak yakin bahwa tujuan kami memang ke sana.

Ne, Sokcho.

Oh, mungkin karena hari itu 1 Januari dan udaranya minus beberapa derajat. Makanya aneh kalau ada yang mau ke pantai. Maka saya segera menambahkan,

Seorak-san-e kago shipoyo.

Barulah si Ahjumma menanyakan jumlah tiket yang akan dibeli, dan mengarahkan kami untuk kembali ke tempat menunggu bis sekitar 30 menit sebelum jam keberangkatan. Setelah mengucapkan terima kasih, kami (rombongan 9 orang dengan 4 anak kecil super excited dengan udara winter Korea ini) segera menyeberang kembali dari platform 9C ke dalam arrival hall di Incheon Airport. 





Soalnya badannya masih kaget dari cuaca Jakarta yang super panas. Dan berharap kali aja berpapasan dengan bias kesayangan di airport, meskipun dari instagram postnya saya tahu mereka semua ada di rumah. 

17 February 2018

Arti Film Perjuangan Untuk Anak Jaman Sekarang

Sebelum bertanya pada Dudu, saya mencoba mengingat kembali film perjuangan apa yang pernah saya tonton? Mungkin ada, tapi saya tidak ingat satu pun.

Astaga.

Lalu bagaimana saya expect Dudu untuk menonton film perjuangan? Mungkin satu-satunya yang bisa menghubungkan Dudu dengan “film perjuangan” adalah bagaimana para survival di The Walking Dead berjuang bebas dari kepungan zombie. Dudu mungkin aware bahwa bangsa Indonesia pernah dijajah Belanda. Tapi karena Dudu sekolahnya internasional, tidak pernah ada penekanan bahwa sejarah tersebut penting dan seharusnya menjadi bagian dari dirinya.


Atau tidak. 




Toh, Dudu bukan orang Indonesia. Kan dia keturunan sekutu yang ikut mengebom Hiroshima dan Nagasaki, lalu meratapi kapal-kapal yang tenggelam di Pearl Harbor. Mungkin sebenarnya perjuangan Martin Luther King Jr. lebih berfaedah buat sejarah Dudu kelak.

Kalau saya tidak ingat satu pun film perjuangan yang saya tonton, bagaimana saya mau mengkritisi atau memberi saran bagi para pembuatnya?

11 February 2018

Ikutan Trending di Dunia Blogging

Paling enak itu jaman dulu, belum banyak yang ditemukan. Coba kalau Alexander Graham Bell hidup di jaman sekarang, dia pasti pusing melihat benda ciptaannya malah menjauhkan yang dekat bukan mendekatkan yang jauh. Padahal mungkin dulu dia menciptakan telepon supaya komunikasi lebih mudah. 

Jadi blogging itu gini ya Om, Tante...
Graham Bell menciptakan telepon, sesuatu yang baru pada masanya. Dan sampai sekarang, secanggih-canggihnya ponsel, tetap saja merupakan pengikut trend komunikasi. Iya sih, ada tambahan fitur A, teknologi B dan lain sebagainya. Tapi pada intinya kan benda tersebut tetap sebuah telepon (meskipun fungsi yang paling sering dipakai adalah Whatsapp dan Instagram).

Blogging juga begitu, terutama setelah banyak yang menyadari bahwa “profesi” ini menjanjikan. Banyak yang latah punya blog (terutama kategori lifestyle) dan mendadak jadi blogger. Ikutan trend. Tidak salah dong? Well, it’s okay to follow but we do have to create something that’s uniquely ours. Sebutan simplenya “identitas”. Sama seperti brand ponsel yang sering datang menghampiri para blogger itu. Ada yang kameranya bagus, ada yang punya fitur waterproof, ada yang tahan banting, dan lain sebagainya.

10 February 2018

Resolusi Untuk Jatuh Cinta

Resolusi 2018 ini sebenernya cuma daur ulang dari tahun sebelumnya. Isinya ya begitu-begitu aja: mau bikin buku, mau jalan-jalan ke luar negeri sama Dudu dan mau kuliah lagi. Terus kalau ditanya mana yang urgent mau diwujudkan tahun ini? Well, tidak ada sih. Semuanya sama saja, mungkin malah sama urgent-nya karena sudah resolusi tahun sebelumnya.

Tapi tahun ini sedikit berbeda. Soalnya saya mengawali tahun dengan liburan ke Korea, yang berarti #DateWithDudu ke luar negeri yang bukan cuma Singapore/Malaysia itu kesampaian. Itu satu resolusi yang begitu ada teriakan “Happy New Year!” sudah langsung terlaksana. 

Jalan-jalan lagi yuk!
Resolusi berikutnya adalah mau bikin buku. Sudah ada wacana dari jaman saya senang menulis fanfiction, ikutan kelas-kelas menulis buku sampai numpang baca teenlit di toko buku, tetap saja tidak terlaksana. Ada beberapa buku yang saya beli spesial untuk jadi inspirasi, tapi tidak kunjung terwujud juga. Buat resolusi yang ini sih kendalanya saya tidak tahu mau mulai dari mana.

06 February 2018

K-Drama With Dudu Episode 1: Bukan Winter Sonata

Akhirnya saya dan Dudu ke Korea juga.

Pas winter.
Pas suhu di Korea Selatan sedang dibawah 0 derajat.


Dengan segala drama akhir tahun mulai dari asam lambung yang kambuh H-1 dan membuat saya harus minum 3 macam obat sebelum makan kimchi, sampai packing dan pembuatan itinerary yang tidak selesai-selesai karena pekerjaan saya yang mendadak menumpuk di bulan Desember.


But let me start with how it all began: teman seperjalanan.

Kita berdua pergi ber-9, dengan tim yang sama dengan Playdate ke Singapura 2 tahun lalu. Harusnya ber-10, tapi yang satu gagal dapat visa dan kalau saya ceritain di sini nanti orangnya baper lagi haha. Total 5 dewasa 4 anak dengan persiapan khusus karena kita perginya 1 Januari 2018.

Tidak mudah buat cari teman seperjalanan yang cocok, apalagi kalau kita jalan bawa keluarga masing-masing. Untungnya kita ber-9 survive perjalanan ke Korea ini haha. Ya kita sudah survive Playdate ke Singapura dan 16 Jam stuck di kereta Gajayana jadi kayaknya winter sonata di Korea tidak sesulit itu.

Januari 2017, sebuah tawaran tiket murah datang menghampiri. Ke Korea PP naik Garuda hanya 3,5jt/orang. Mau dilewatkan sayang, mau diambil juga tanggalnya masih jauh banget: 31 Desember 2017 malam. That means kita akan tahun baruan di pesawat. Things might change over the year and we might not depart at all. Tapi yang namanya resiko harus diambil dan akhirnya kita ber-10 nekat beli tiket.